Friday, July 21, 2017

STAHN TP Palangka Raya: Adakan Orientasi Jurnalistik Mahasiswa


sintungtelu.blogspot.co.id - Peran penting dan staregis Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan meningkatkan daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan kedepan yang makin pesat sehingga diperlukan SDM yang mampu mengembangkan ilmu di bidangnya untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan manusia.

Tridharma Perguruan Tinggi adalah kewajiban untuk menyelenggarakan penelitian, pengabdian pada masyarakat dan salah satunya adalah menyelenggaakan pendidikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan potensi diri mahasiswa yang dalam hal ini Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) TP Palangka Raya mengadakan kegiatan Orientasi Jurnalistik Mahasiswa (OJM) yang diselegarakan di Aula Kegiatan Mahasiswa pada hari Sabtu (22/7/17).

Dihadapan sekitar 90-an lebih mahasiswa yang mengikuti kegiatan OJM, Wakil Ketua STAHN TP Palangka Raya Bidang Kemahasiswaan Budi Widodo, SH, M.H mengharapan kegiatan ini mampu meningkatkan kemampuan dan pemahaman mahasiswa tentang dunia Jurnalistik sebagai peluang untuk meningkatkan SDM terkhususnya di dunia kerja, karena dunia kerja tidak harus menjadi seorang PNS.

Kegiatan OJM yang menghadirkan I Wayan Agus Purnomo, SH dari Tempo Media Group, Zainal Abidin Kepala LKBN Antara Biro Kalteng dan Albert M Sholeh, SS Pimpinan Redaksi Harian Kalteng Pos, mengangkat tema “Melalui Kegiatan Orientasi Jurnalistik Mahasiswa Kita Tingkat Pemahaman Mahasiswa Tentang Dunia Jurnalistik”.


Kegiatan ini pula diharapkan mampu mengembangkan skill dan kemampuan mahasiswa dalam dunia Jurnalistik, sehingga menjadi jurnalis yang profesiol mampu mencari, mengelola dan menyaring berita yang ada pada dewasa ini, sehingga menjadi informasi yang memiliki manfaat dan berdaya guna. (#MR) Editor (#RAI)

Thursday, July 20, 2017

Suntu/Contoh Pertama Tiwah yang Menjadi Pedoman Bagi Hindu Kaharingan

Jum"at (21/7/17) Tiwah Masal di Kereng Bangkirai Palangka Raya Kalimantan Tengah

sintungtelu.blogspot.co.id – Ritual Kematian Tingkat Akhir Agama Hindu Kaharingan yaitu Tiwah, dalam hal Upacara Tiwah sendiri merupakan upacara Pensucian Roh Leluhur “Liau Haring Kaharingan”. Tiwah juga dipercaya sebagai ritual yang akan menghantarkan Roh Leluhur menuju surga “Lewu Tatau Diarumpang Tulang Rundung Isen Malalesut Uhat” menyatu atau kembalinya Atman pada Ranying Hatalla Langit Tuhan Yang Maha Esa.

Selain sebagai wujud keyakinan bahwa ritual keagaman yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu Kaharingan yang berada di daerah Kalimantan Tengah, juga sebagai bentuk cinta kasih dan bakti yang tulus kepada saudara atau keluarga yang sudah meninggal, bahwa cinta kasih tersebut tidak hanya di implementasikan saat semasa masih hidup, tapi cinta kasih tersebut di implementasikan dari hidup, mati sampai menyatunya Roh kepada Sang Pencipta.

Dalam Ritual Tiwah sendiri terkandung nilai-nilai luhur adat istiadat dan budaya daerah yang wajib untuk kita lestarikan, oleh sebab itu generasi Hindu Kaharingan diharapkan bisa mempertahankan warisan luhur dengan ajaran keagaman yang diyakini oleh Utus dari Maharaja Bunu dengan ajaran sucinya yang penuh dengan kemuliaan dan nilai-nilai luhur, religius dan sakral.

Tiwah sendiri berpedoman pada Kitap Suci Panaturan didalamnya dijelaskan bahwa Upacara Tiwah yang menjadi pedoman/suntu/contoh untuk utus Raja Bunu dari dulu hingga sekarang adalah dari Upacara Tiwah Suntu Ain Raja Tantaulang Bulau di Lewu Bukit Batu Nindan Tarung Kareng Angkar Bantilung Nyaring yang dilaksanakan oleh Manyamei Tunggul Garing Janjalunen Laut dan Kameluh Putak Bulau Janjalunen Karangan Balimut Batu dengan tiga orang anaknya Raja Sangen, Raja Sangiang, dan Raja Bunu.

Seperti yang ada di Panaturan Pasal 33 Pelaksanaan Tiwah Suntu Ayat 5 berbunyi “Tiwah Suntu Intu Lewu Bukit Batu Nindan Tarung tuh ilalus, iete suntu akan Raja Bunu, awie ie handak impa muhun akan Pantai Danum Kalunen, tuntang jetuh kea dapit jeha ije badehen palus katataie huang pambelum ulun kalunen, ampi jalae ie buli hinje RANYING HATALLA mahurui jalan ie Tesek Dumah”.

Yang artinya “Tiwah Suntu di Lewu Bukit Batu Nindan tarung dilaksanakan, yaitu untuk menjadi contoh bagi Raja Bunu, karena ia akan diturunkan ke Pantai Danum Kalunen, dan Tiwah Suntu ini tetap dipelihara untuk selama-lamanya dalam kehidupan manusia, tentang begaimana tatacara mereka kembali menyatu pada RANYING HATALLA, yaitu dengan sebagaimana ia lahir dan dia hidup di dunia ini”.


Dengan kata lain upacara Tiwah yang sangat sakral dalam memelihara adat istiadat dan budaya daerah ini pelaksanaannya berpedoman pada firman Ranying Hatalla dalam Tiwah Suntu/Contoh yang dilakukan Ian Raja Tantaulang Bulau, dengan demikian menjadi contoh dan pedoman dalam melakukan ritual Tiwah sehingga apa yang menjadi Firman oleh Ranying Hatalla dapat dilaksanakan dan dijaga oleh Panakan Raja Bunu. (#RAI)

Saturday, July 15, 2017

Gejala Disleksia


Anak  disleksia  memiliki  perbedaan gejala satu  sama  lain.  Satu-satunya  sifat yang  sama  pada  mereka  adalah  kemampuan  membacanya  yang  sangat  rendah  dilihat dari  usia  dan  inteligensi  yang  dimilikinya.  Setiap  anak  memiliki kecenderungan disleksia,  dan  ada  pula  anak  yang  tidak  disleksia  tetapi  mempunyai  pengalaaman kesulitan membaca.

Anak  disleksia  yang  kidal  dapat  menggunakan  kedua  belah  tangan,  misalnya saat menulis, namun mereka sering kali membaca dari kanan ke kiri. Adapun gejala disleksia ini antara lain:
1.     Ragu-ragu dan lambat dalam berbicara.
2.     Kesulitan  memilih kata  yang  tepat  untuk  menyampaikan  maksud  yang diucapkannya  Bermasalah  dalam  menentukan  arah  (atas – bawah)  dan  waktu (sebelum – sesudah, sekarang-kemarin).
3.     Kesalahan mengeja yang dilakukan terus-menerus, seperti misalnya kata ”gajah” ducapkan  menjadi  ”gagah”. kata  ”ibu”  ducapkan  menjadi  ”ubi”,   kata  ”pipa” menjadi ”papi”
4.     Membaca kata demi kata secara lamban dan intonasi naik turun.
5.     Membalikkan  huruf,   kata,   dan  angka  yang  mirip,   misalnya  b  dengan  p,  u dengan n, kata kuda dengan daku, palu dengan lupa, 2 – 5, 6 – 9.
6.     Kesulitan dalam menulis, misalnya menuliskan namanya sendiri “Rosa” menjadi  Ro5a,  menuliskan  kata  “Adik”  menjadi  4dik  (huruf  S  dianggap  sama dengan angka 5, huruf A dianggap sama dengan angka 4).

Sidiarto, L.D. (2010) perkembangan otak dan kesulitan belajar pada anak.
Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press)