Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, October 16, 2021

ULANGAN TENGAH SEMESTER KELAS 6


Sebelum memulai menjawab soal Ulangan Tengah Semester (UTS) perhatikan hal-hal berikut ini :

1. Pastikan sudah mempelajari tema atau muatan pelajaran;

2. Saat mengerjakan soal ulangan peserta didik diharapakan mampu menerapkan nilai kejujuran, percaraya diri, sportifitas dan tanggung jawab;

3. Selama mengerjakan peserta didik hanya dibolehkan mencari jawaban di buku (open book) dan tidak diperkenankan browsing di internet;

4. Password setiap tema berbeda, jika tidak bisa masuk segera hubungi wali kelasnya;

5. Rentang waktu pengerjaan pukul 12.00 - 15.00 WIB, selain dari waktu tersebut dianggap tidak sah;

6. Peserta didik hanya diberi waktu 1 kali pengerjaan;

7. Selesai mengerjakan screnshoot nilai lalu kirim ke grub; dan

8. Sebelum mulai mengerjakan jangan lupa berdoa.  

SOAL TEMA 1 Senin, 18 Oktober 2021 MULAI KLIK DISINI

SOAL TEMA 2 Selasa, 19 Oktober 2021 MULAI KLIK DISINI

SOAL TEMA 3 Kamis, 20 Oktober 2021 MULAI KLIK DISINI            


NILAI TEMA 1 2 dan 3 


REMEDIAL TEMA 1 KLIK DISINI

REMEDIAL TEMA 2 KLIK DISINI

REMEDIAL TEMA 3 KLIK DISINI

Saturday, August 26, 2017

Makalah Hakekat Perubahan Sosial

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan, yang dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, tetapi ada juga yang berjalan dengan cepat. Perubahan-perubahan hanya dapat ditemukanoleh seseorang yang sempat meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu  dan membandingkannya dengan susunan dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu yang lampau. Seorang yang tidak sempat menelaah susunan dan kehidupan masyarakat desa di Indonesia misalnya akan berpendapat bahwa masyarakat tersebut statis, tidak maju, dan tidak berubah. Pernyataan demikian didasarkan pada pandangan sepintas yang tentu saja kurang mendalam dan kurang teliti karena tidak ada suatu masyrakat pun yang berhenti pada suatu titik tertentu sepanjang masa. Orang-orang desa sudah mengenal perdagangan, alat-alat transpor modern, bahkan dapat mengikuti berita-berita mengenai daerah lain melalui radio, televisi, dan sebagainya yang kesemuaanya belum dikenal semuanya.
Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya. Karena luasnya bidang di mana mungkin terjadi perubahan-perubahan tersebut, bila seseorang hendak membuat penelitian, perlulah terlebih dahulu ditentukan secara tegas, perubahan apa yang dimaksudnya. Dasar penelitian mungkin tak akan jelas apabila hal tersebut tidak dikemukakan terlebih dahulu.
Para sosiolog pernah mengadakan klasifikasi antara masyarakat-masyarakat statis dan dinamis. Masyarakat statis dimaksud masyarakat yang sedikit sekali mengalami perubahan dan berjalan lambat. Masyarakat yang dinamis adalah masyarakat-masyarakat yang mengalami berbagai perubahan yang cepat. Jadi setiap masyarakat, pada suatu masa dapat dianggap sebagai masyarakat yang statis. Sementara itu, pada masyarakat lainnya, dianggap sebagai masyarakat dinamis. Perubahan-perubahan bukan lah semata-mata berarti suatu kemajuan (progrees) namun dapat pula berarti kemunduran dari bidang-bidang kehidupan tertentu.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari Perubahan Sosial dan Kebudayaan ?
2.      Bagaimana Bentuk Perubahan Sosial dan Kebudayaan ?
3.      Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan Perubahan Sosial dan Kebudayaan ?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa Definisi Perubahan Sosial dan Kebudayaan
2.      Untuk mengatahui bentuk Perubahan Soaial dan Kebudayaan
3.      Untuk mengetahui faktor-faktor  yang menyebabkan Perubahan Sosial dan Kebudayaan
D.    Manfaat
1.      Mahasiswa jadi tau apa itu Perubahan Sosial dan Budaya
2.      Mahasiswa lebih tau bentuk Perubahan Sosial dan Kebudayaan
3.      Mahasiswa dapat menjelaskan dan memberikan contoh tentang Perubahan Sosial dan Kebudayaan





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pembatasan Pengertian
1.      Pengertian Perubahan Sosial
Segala perubahan pada lembaga-lembaga masyarakatan di dalam suatu masyaraka, yang mmengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
2.      Definisi
Para sosiolog maupun antarapologi telah banyak mempersoalkan mengenai pembatasan pengertian perubahan-perubahan sosial dan Kebudayaan. Supaya tidak menimbukan kekaburan, pembicaraan akan dibatasi lebih dahulu pada perubahan-perubahan sosial. Dengan demikian, diinvertarisasi rumusan-rumusan seperti diabawah ini.
William F. Ogburn berusaha memberikan suatu pengertian tertentu , walau tidak memberikan definisi tentang perubahan-perubahan sosial. Dia mengemukakan ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur inmaterial.
Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misyalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan antara buruh dengan majikan dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik,

MacIver lebih suka membedakan angtara utilitarian elements dengan cultural elements yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan manusia yang primer dan sekunder. Semua kegiatan dan ciptaan manusia dapat diklasifikasikan ke dalam kedua kategori tersebut di atas. Sebuah mesin ketik, alat pencetak, atau sistem keuangan, merupakan utilitarian elements karena benda-benda tersebut tidak langsung memenuhi  kebutuhan-kebutuhan manusia, tetapi dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Utilitarian elements disebutnya civilization.  Artinya, semua mekanisme dan organisasi yang dibuat manusia dalam upaya menguasai kondisi-kondisi kehidupannya, termasuk didalamnya sistem-sistem organisasi sosial, teknik, dan alat-alat material. Pesawat telepon, jalan kereta api, sekolah, hukum, dan seterusnya dimasukan ke dalam golongan tersebut.
Culture menurut MacIver adalah ekspresi jiwa yang terwujud dalam cara-cara hidup berpikir, pergaulan hidup, seni kesusastraan, agama, rekreasi dan hiburan. Sebuah potret, novel, drama, film, permainan, filsafat dan sebagaimanya, termasuk culture, karena hal-hal secara langsung memenuhi kebutuhan manusia. Dengan pernyataannya itu, MacIver mengeluarkan unsur material  dari ruang lingkup culture.

MacLver perubahan perubahan sosial dikatakan sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial
Gillin dan Gilin mengatakan perubahan perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Secara singkat Samoel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia yang terjadi karena sebab-sebab intern maupun sebab-sebab ekstern.
Solo Soemardjan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk dalam nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definis tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang kemudian memengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya.
3.      Teori-teori Perubahan Sosial
Para ahli filsafat, sejarah, ekonomi, dan sosiologi telah mencoba untuk merumuskan prinsip-prinsip atau hukum-hukum perubahan-perubahan sosial. Banyak yang berpendapat ketercendrungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan hejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia.
Ahli lain berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dan unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti misalnya perubahan dalan unsur-unsur geografis, biologis, atau kebudayaan. Kemudian, ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial bersifat periodik dan non periodik. Pendapat-pendpat tersebut pada umumnya menyatakan bahwa perubahan merupakan lingkaran kejadian-kejadian.
Pitirim A. Sorokin berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan-perubahan sosial tidak akan berhasil baik. Dia meragukan kebenaran akan adanya lingkaran-lingkaran perubahan sosial tersebut. Akan tetapi, perubahan-perubahan akan tetap ada dan yang paling penting adalah lingkaran terjadinya gejala-gejala sosial harus dilpelajari karena dengan jalan tersebut barulah akan dapat diperoleh suatu generasi.
Beberapa sosiolog berpendapat bahwa ada kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan. Misalnya kondisi-kondisi ekonomis, teknologis, geografis, atau biologis menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial lainya (William F. Ogburn menekankan pada teknologis). Sebaliknya ada pula yang mengatakan bahwa semua kondisi tersebut sama pentingnya, satu atau semua akan menelorkan perubahan-perubahan.
B.     Beberapa Bentuk Perubahan Sosial dan Kebudayaan
Perubahan sosial dan kebudayaan dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut.
1.      Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat
Perubahan –perubahan yang memerlukan waktu lama, dan rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat dinamakan evolusi. Pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa ada rencana atau kehendak tertentu. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuiakan diri dengan keperluan-keperluan,keadaan-keadaan, dan kondisi-kondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Rentetan perubahan-perubahan tersebut tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa-peristiwa didalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.
Sementara itu, perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung dengan cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan) lazimnya dinamakan “revolusi”. Unsur-unsur pokok revolusi adalah adanya perubahan yang cepat, dan perubahan tersebut mengenai dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat. Didalam revolusi, perubahan-perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu atau tanpa rencana. Ukuran kecepatan suatu perubahan yang dinamakan revolusi, sebenarnya bersifat relatif karena revolusi dapat memakan waktu yang lama.
Misalnya revolusi industri di Ingrris, dimana perubahan-perubahan terjadi dari tahap produksi tanpa mesin menuju ke tahap produksi menggunakan mesin. Perubahan tersebut dianggap capat karena mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, seperti sistem kekeluargaan, hubungan antara buruh dengan majikan dan seterusnya. Suatu revolusi dapat berlangsung dengan didahului oleh suatu pemberontakan (revolt,rebellion) yang kemudian menjelma menjadi revolusi yang mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat. Secara sosiologis, agar suatu revolusi dapat terjadi, harus dipenuh syarat-syarat tertentu, antara lain sebagai berikut.
a.       Harus ada keinginan umum untuk mengadakan sesuatu perubahan. Di dalam masyarakat, harus ada perasaantidak puas terhadap keadaan dan suatu keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.
b.      Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.
c.       Adanya pemimpin  dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat untuk kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas tadi menjadi program dan arah gerakan.
d.      Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat. Artinya tujuan tersebut  terutama bersifat konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Di samping itu, diperlukan juga suatu tujuan yang abstra, misalnya, perumusan suatu ideologi tertentu.
e.       Harus ada “momentum”, yaitu saat di mana segala keadaan dan faktor sudah tepat dan baik untuk memulai suatu gerakan. Apabila “momentum” keliru, revolusi dapat gagal.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945 merupakan contoh suatu revolusi yang tepat “momentum”-nya. Pada waktu itu, perasaan tidak puas di kalangan bangsa Indonesia telah mencapai puncaknya dan ada pemimpin-pemimpin yang mampu menamping keinginan-keinginan tersebut, sekaligus merumuskan tujuannya. Saat itu bertepatan dengan kekalahan kerajaan Jepang yang menjajah Indonesia sehingga sangat tepat untuk memulai suatu revolusi yang diawali dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia menjadi suatu negara yang merdeka dan berdaulat penuh.
2.      Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
Agak sulit untuk merumuskan masing-masing pengertian tersebut di atas karena batasa-batas pembedaannya sangat relatif. Sebagai pegangan dapatlah didapatkan bahwa perubahan-perubahan kecil merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berati bagi masyarakat. Perubahan mode pakaian, misalnya, tak akan membawa pengaruh apa-apa bagi masyarakat secara keseluruhan karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sebaliknya, suatu proses industrialisasi yang berlangsung pada masyarakat agresis, misalnya, merupakan perubahan yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat. Pelbagai lembaga kemasyarakatan akan ikut berpengaruh misalnya hubungan kerja, sistem milik tanah, hubungan kekeluargaan, stratifikasi masyarakat, dan seterusnya.
Kepadatan penduduk di pulau jawa, misalnya, telah melahirkan berbagai perubahan dengan pengaruh yang besar. Areal tanah yang dapat diusahakan menjadi lebih sempit; pengangguran tersamarkan kian tampak di desa-desa. Mereka yang tidak mempunyai tanah menjadi buruh tani dan banyak wanita serta anak-anak yang menjadi “buruh” potong padi pada waktu panen. Sejalan dengan itu, terjadi pula proses individualisasi milik tanah. Hak-hak ulayat desa semakin luntur karena areal tanah tidak seimbang dengan kepadatan penduduk. Timbullah bermacam-macam lembaga hubungan kerja, lembaga gadai tanah, lembaga bagi hasil dan seterusnya, yang pada pokoknya bertujuan untuk mengambil manfaat yang sebesar mungkin dari sebiding tanah yang tidak begitu luas. Warga masyarakat hanya hidup sedikit di atas standar minimal. Keadaan atau sistem yang dimiliki oleh Clifford Geertz disebut shered poverty.

3.      Perubahan yang Dikehendaki (Intended-Change) atau Perubahan yang Direncanakan (Planned-Change) dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki (Unintended-Change) atau Perubahan yang Tidak Direncanakan (Unplanned-Change)
Perubahan yang dikehendaki atau direnacakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga masyarakat.
Agent of change memimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial. Dalam melaksanakannya, agent of change langsung tersangkut dalam tekanan-tekanan untuk mengadakan perubahan. Bahkan mungkin menyiapkan pula perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Suatu perubahan yang dikehandaki atau yang direncanakan selalu berada dibawah pengandalian serta pengawasan agent of change tersebut. Cara-car mempengaruhui masyarakat dengan sestem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan rekayasa sosial (social engineering) atau sering pula dinamakan perencanaan sosial (social planning).
Perubahan sosial yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan merupakan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki, berlangsung di luar jangkawan pengawasan masyrakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat. Apabila perubahan yang tidak dikehendaki tersebut berlangsung bersamaan dengan suatu perubahan yang dikehendaki ,perubahan tersebut mungkin mempunyai pengaruh yang demikian bersarnya terhadap perubahan-perubahan yang dikehendaki. Dengan demikian, keadaan tersebut tidak mungkin diubah tanpa dapat halangan-halangan masyrakat itu sendiri . atau dengan kata lain, perubahan yang dikehendaki diterima oleh masyarakat dengan cara mengadakan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakata yang ada atau dengan cara membentuk yang baru. Sering kali terjadi perubahan yang dikehendaki bekerja sama dengan perubahan yang tidak dikehendaki dan kedua proses tersebut saling memengaruhi.
Konsep perubahan yang dikehndaki dan yang tidak dikehendaki tidak mencangkup paham apakah perubahan-perubahan tadi diharapkan atai tidak diharapakan oleh masyarakat. Mungkin suatu perubahan yang tidak dikehendaki sangat diharapakan dan diterima oleh masyrakat. Bahkan pada agent of change yang merencanakan perubahan-perubahan yang dikehendaki telah memperhitungkan terjadinya perubahan-perubahan yang tidak terduga (dikehendaki) di bidang-bidang lain. Pada umumnya sulit mengadakan ramalan tentang terjadinya perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki. Karena proses tersebut biasanya tidak hanya berupa akibat dari satu gejala sosial saja, tetapi dari pelbagai gejala sosial sakaligus.

Contoh : Akibat dari adanya perubahan
Perubahan yang terjadi di lingkungan Daerah istimewa Yogyakarta sejak akhir kekuasaan Belanda sekaligus merupakan perubahan-perubahan yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki. Perubahan yang dikehendaki menyangkut bidang politik dan administrasi, yaitu suatu perubahandari sestem sentralisme autokratis ke suatu desentralisasi demokratis. Perubahan ini dipelopori oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sebagai salah satu akibatnya timbul perubahan yang tidak dikehendaki, akan tetapi, telah diperhitungkan oleh pelopor perubahan, yaitu petugas pamong praja kehilangan wewenang atas pemerintah desa. Suatu keadaan yang tidak diharapkan dalam kerangka ini adalah bertambah pentingnya peranan dukuh (bagian-bagian desa atas dasar administrasi) yang menyebabkan berkurangnya ikatan antara kekuatan sosial yang merupakan masyarakat desa. Akibat lain nuga tidak diharapkan adalah hilangnya peranan kaum bangsawan, secara berangsung-angsung, sebagai warga kelas tinggi.

Suatu perubahan yang dikehendaki dapat timbul sebagai reaksi (yang direncanakan) terhadap perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi sebelumnya, baik yang merupakan perubahan yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki. Terjadinya perubahan-perubahan yang dikehendaki, oerubahan-perubahan yang kemudian merupakan selanjutnya meneruskan proses. Bila sebelumnya terjadi perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki, perubahan yang dikehendaki dapat ditafsirkan sebagai pengakuan terhadap perubahan-perubahan sebelumnya agar kemudian diterima secara luas oleh masyarakat.
perubahan yang dikehendaki merupakan suatu teknik sosial yang oleh Thomas dan Znaniecki ditafsirkan sebagai suatu proses yang berupa perintah dan larangan. Artinya, menetralisir suatu keadaan krisis dengan suatu akomondasi (khususnya arbitrasi) untuk melegakan hilangnya keadaan yang tidak dikehendaki atau berkembangnya suatu keadaan yang dikehendaki. Legalisasi tersebut dilaksanakan dengan tindakan-tindakan fisik yang bersifat arbitratif.




C.    Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial dan Kebudayaan
Untuk mempelajari perubahan masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih mendalam mengenai sebab terjadinya suatu perubahan masyarakat, mungkin dikarenakan adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan. Mungkin saja perubahan terjadi karena ada faktor baru yang lebih memuaskan masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama itu. Mungkin juga masyarakat mengadakan perubahan karena terpaksa demi menyesuaikan suatu faktor dengan faktor-faktor lain yang sudah mengalami perubahan terlebih dahulu.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa mungkin ada sumber sebab-sebab tersebut yang terletak dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang letaknya di luar. Sebab-sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri, antara lain sebagai berikut.
1.      Bertambah atau Berkurangnya Penduduk
Pertambahan penduduk yag sangat cepat di pulau jawa meyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Misal, orang lantas mengenal hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan selanjutnya, yang sebelumnya tidak dikenal.
Berkurangnya penduduk mungkin disebabkan berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dari daerah lain ( misalnya transmigrasi ). Perpindahan penduduk mengakibatkan kekosongan, misalnya, dalam bidang pembagian kerja dan stratifiasi sosial, yang memengaruhi lembaga-lembaga kemasyrakatan. Perpindahan penduduk telah berlangsung beratus-ratus ribu tahun lamanya di dunia ini. Hal itu sejajar dengan bertambah banyaknya manusia penduduk bumi ini. Pada masyarakat-masyarakat yang mata pencaharian utamanya berburu, perpindahan sering kali dilakukan, yang tergantung dari persediaan hewan-hewan buruannya. Apabila hewan-hewan tersebut habis, mereka akan berpindah ketempat lainnya.
2.      Penemuan-penemuan Baru
suatu proses social dan kebudayaan yang besar, tetapi yang terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama disebut dengan inovasi atau innovation. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya unsur kebudayaan baru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat , dan cara-cara unsure kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari, dan akhirnya dipakai dalam masyarakat yang bersangkutan.
Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahan-perubahan dapat dibedakan dalam pengertian-pengertian discovery dan invention. Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat ataupun yng berupa gagasan, yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu.
Discovery beu menjadi invention kalau masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru itu. Sering kali proses dari discovery sampai ke innovation membutuhkan suatu rangkaian pencipta-pencipta. Penemuan mobil, misalnya, dimulai dari usaha seorang Austria, yaitu S. Marcus (1875) yang membuat motor gas pertama.
Pada saat penemuan menjadi invention, proses inovasi belum selesai. Sungguhpun kira-kirasesudah 1911 produksi mobil dimulai, mobil masih belum dikenal oleh seluruh masyarakat. Penyebaran alat pengangkutan tersebut masih harus dipropagandakan kepada khalayak ramai. Di Indonsia juga banyak dijumpai persoalan yang menyangkut mobil. Walaupun masih ada yang belum mengenal mobil, pada umumnya masyarakat sudah mengenal mobil bahkan sudah oernah mersakan naik mobil.
Apabila ditelaah lebih lanjut perihal penemuan-penemuan baru, terlihat pada beberapa faktor pendorong yang dipunyai masyarakat. Bagi individu pendorong tersebut antara lain:
a.       Kesadaran individu-individu akan kekurangan dalam kebudayaannya;
b.      Kualitas ahli-ahli dalam suatu kebuduyaan;
c.       Perangsang bagi aktivitas-aktivitas peciptaan dalam masyarakat;
Di dalam setiap masyarakat tentu ada individual yang sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan masyarakatnya di antara orang-orang tersebut banyak yang menerima kekurangan-kekurangan tersebut sebagai sesuatu hal yang harus diterima saja. Keinginan akan kualitas juga merupakan pendorong bagi terciptanya penemuan-penemuan baru. Kenginan untuk mempertinggi kualitas suatu karya merupakan pendorong untuk meneliti kemungkinan-kemungkinan ciptaan baru.
Khusus penemuan-penemuan baru dalam kebudayaan jasmaniah atau kebendaan menunjukkan adanya berbagai macam pengaruh pada masyarakat. Peratama-tama, pengaruh suatu penemuan baru tidak hanya terbatas pada satu bidang tertentu saja, tetapi ia seringkali meluas kebidang-bidang lainnya. Misalnya penemua radio menyebabkan perubahan-perubahan dalam lembaga kemasyarakatan seperti pendidikan, agama, pemerintah, rekreasi, dan seterusnya. Kemungkinan lain adalah perubahan-perubahan yang menjalar dari satu lembaga kemasyarakatan ke lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Penemuan baru kapal terbang mebawa pengaruh terhadap metode peperangan, yang kemudian kian memperdalam perbedaan antara Negara-negara besar (super power) dengan Negara-negara kecil.
Di samping penemuan-penemuan baru di bidang unsur-unsur kebudayaan jasmaniah, terdapat pula penemuan-penemuan baru dibidang unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Misalnya ideologi baru, aliran-aliran kepercayaan yang baru, sistem hukum yang baru dan seterusnya.
3.      Pertemuan (Conflict) Masyarakat
Pertentangan (conflict) masyarakat mungkin pula menjadi sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertentangan-pertentangan mungkin terjadi antara individu dengan kelompok atau perantara kelompok dengan kelompok.
Umumnya masyarakat tradisional di Indonesia bersifat kolektif. Segala kegiatan didasarkan pada kepentingan masyarakat. Kepentingan individu walaupun diakui, tetapi mempunyai fungsi sosial. Pertentangan antarkelompok mugkin terjadi antara generasi tua dengan generasi muda. Pertentangan-pertentangan demikian itu kerap kali terjadi , apalagi pada masyarakat yang sedang berkembang dari tahap tradisional ke tahap modern.
4.      Terjadinya Pemberontakan atau Revolusi
Revolusi yang meletus pada Oktober 1917 di Rusia telah menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar Negara Rusia yang mula-mula mempunyai  bentuk kerajaan absolute berubah menjadi dictator ploretariat yang di landaskan pada dooktrin Marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan, mulai dari bentuk Negara sampai keluarga batin, mengalami perubahan-perubahan yang mendasar.

Suatu perubahan sosial dan kebudayaan dapat pula bersumber pada sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri, antara lain sebagai berikut;

a.      Sebab-sebab yang Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia
Terjadinya gempa bumi, topan, banjir besar, dan lainnya mungkin menyebabkan masyarakat-masyarakat yang mendiami daerah-daerah tersebut terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Bagi suatu masyarakat yang mula-mula hidup dari berburu, kemudian menetap di suatu daerah pertanian, perpindahan itu akan melahirkan perubahan baru dalam diri masyarakat tersebut, misalnya timbul lembaga kemasyarakatan baru yaitu pertanian. Misalnya penggunaan tanah secara sembrono tanpa memperhitungkan kelestarian humus tanah, penebangan hutan tanpa memikirkan penanaman kembali, dan lain sebagainya.
b.      Peperangan
Peperangan dengan Negara lain dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan karena biasanya Negara yang menang akan memaksakan kebudayaannya pada Negara yang kalah. Contohnya adalah Negara-negara yang kalah dalam Perang Kedua banyak sekali mengalami perubahan dalam lembaga kemasyarakatannya.
c.       Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain
Apabila sebab-sebab perubahan bersumber pada masyarakat lain, itu mungkin terjadi karena kebudayaan dari masyarakat lain melancarkan pengaruhnya. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbale balik. Artinya, masing-masing masyarakat memengaruhi masyarakat lainnya, tetapi juga menerima pengaruh dari masyarakat yang lain itu.
Di dalam pertemuan dua kebudayaan tidak selalu akan terjadi proses saling memengaruhi. Kadangkala pertemuan dua kebudayaan yang seimbang akan saling menolak. Peretemuan kedua kebudayaan ini mula-mula diawali dengan pertentangan fisik yang kemudian dilanjutkan dengan pertentangan dalam segi-segi kehidupan lainnya.
Apabila salah satu dari dua kebudayaan yang bertemu mempunyai taraf teknologi yang lebih tinggi, maka yang terjadi adalah proses imitasi, yaitu peniruan terhadap unsur-unsur kebudayaan lain. Mula-mula unsure tersebut ditambahkan pada kebudayaan asli. Akan tetapi, lambat-laun unsure kebudayaan aslinya diubah dan diganti oleh unsur kebudayaan asig tersebut.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Setiap masyarakat selama hidupnya pasti mengalami perubahan. Perubahan bagi masyarakat yang bersangkutan maupun bagi orang luar yang nenelaahnya. Jadi dalam perubahan sosial ada beberapa Bentuk perubahan sosial dan kebudayaan dan juga adanya faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan Kebudyaan. Perubahan Sosial adalah  segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
B.     Saran
Dari perubahan-perubahan sosial yang ada  kita bisa belajar dan menyaring perubahan-perubahan sosial yang ada sekarang tentunya jangan lupa Kebudayaan kita Gotong Royong. Semoga makalah ini bisa bermanfaat untuk kita semua  

Daftar Pustaka

Soekanto, S (2010). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Laporan Hasil Observasi Inovasi Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Pendidikan tidak lepas dari namanya inovasi karena, kemajuan suatu pendidikan perlunya inovasi yang bersifat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Kemajuan suatu bangsa dilihat dari kemajuan mutu pendidikannya dan didukung oleh sumber daya manusia. Guru salah satu inovator pembahruan dalam dunia pendidikan tentu dengan kerja sama pemerintah, dinas, sekolah, masyarakat, guru dan orang-orang yang terlibat didalamnya.
      Khusus inovasi pendidikan disekolah hal-hal yang perlu diperhatikan seperti pengelolan personalia, struktur sekolah, kegiatan peserta didik, lingkungan sekolah, pemanfaatan lingkungan sekolah, pelaksanan pembelajaran, media pembelajaran, metode, model strategi maupun pengelolaan kelas dan banyak hal yang perlu diperhatikan demi kenyamanan dan kelancaran proses belajar mengajar menjadi bermakna.
      Inovasi yang bersifat memajukan pendidikan umumnya, memajukan sekolah khusunya hal ini lah yang perlu saya teliti sebaga mahasiswa agar kelak kita sebagai guru mempunyai bekal untuk membawa pendidikan yang lebih baik untuk Bangsa kita tercinta Indonesia.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja inovasi yang dilakukan sekolah ?
2.      Bagaimana tanggapan pihak sekolah yang merasakan inovasi tersebut ?
3.      Bagaimana upaya pihak sekolah melakukan inovasi ?
C.    Tujuan
Tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1.      Bagi mahasiswa bisa mengetahui inovasi yang ada di sekolah dasar dengan melihat langsung inovasi yang ada.
2.      Bagi mahasiswa memiliki pengetahuan dan juga pengalaman tentang proses inovasi.
D.    Manfaat
      Bagi mahasiswa agar lebih paham dengan inovasi tidak hanya mempelajari tapi mempraktekkan langsung atau terjun kelapangan untuk lebih mengetahui apa itu inovasi pendidikan.







BAB II
KAJIAN TEORITIS
A.    Analisis Teori
      Pesatnya perkembangan lingkungan local, regional, dan internasional saat in berimplikasi terhadap penanganan penyelenggaraan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan yang ada. Berkaitan dengan pengembangan tersebut, kebetulan untuk memenuhi tuntutan meningkatkan mutu pendidikan sangat mendesak, terutama dengan ketatnya kompetitif antarbangsa di dunia dalam saat ini, ada tiga focus utama yang perlu diatasi dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, yaitu: (1) upaya meningkatkan mutu pendidikan, (2) relevansi yang tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan, (3) tata kelola pendidikan yang kuat. Depdiknas menepatkan tiga hal tersebut dalam rencana strategi pembangunan pendidikan nasional tahun 2004-2009, karena ketiganya tetap mendesak  dan relevan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional pada waktu yang akan dating.
      Atas dasar itu, Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan (Puslitjaknov) Balitbang Depdiknas dalam simposium nasional hasil penelitian pendidikan pada tahun 2009 mengangkat teman peningkatan mutu pendidikan, relevansi, dan penguatan tata kelola.
      Simposium nasional pendidikan dan inovasi pendidikan tahun 2009 merupakan agenda tahunan yang diselenggarai oleh Puslitjaknov Balitbang Depdiknas  sebagai wahana dan wadah untuk menjaring informasi hasil penelitian, pengembangan, dan gagasan inovatif yang bermanfaat dalam memberikan bahan masukan bagi pengambilan kebijakan pendidikan nasional.
1.      Makna Hakiki Inovasi Pendidikan
      Berbicara mengenai inovasi (pembahruan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru, artinya hasil karya manusia. Adapun discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya).
     Secara etimologi, inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembahruan dan perubahan. Kata  kerjanya innovo. Yang artinya memperbarui dan mengubah. Jadi, inovasi adalah perubahan baru menuju arah perbaikan dan perencanaan (tidak secara kebetulan) (Idris, Lisma Jamal, 1992: 70).
      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, inovasi diartikan sebagai pemasukan satu pengenalan hal-hal yang baru; penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya, yang (gagasan, metode atau alat) (tim penyususun kamus pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, 1989: 333).
a.      Inovasi Pendidikan
      Inovasi pendidikan adalah inovasi untuk memecahkan masalah dalam pendidikan. Inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik dalam arti sampit, yaitu tingkat lembaga pendidikan, maupun arti luas, yaitu sistem pendidikan nasional.
      Inovasi dalam dunia pendidikan dapat berupa apa saja, produk ataupun sistem. Produk misalnya, seorang guru menciptkan media pembelajaran mock up untuk pembelajaran. Sistem misalnya, cara penyampaain materi di kelas dengan Tanya jawab ataupun yang lainnya bersifat metode. Inovasi dapat dikreasikan sesuai pemanfaatannya, yang menciptakan hal baru, memudahkan dalam dunia pendidikan, serta mengarah pada kemajuan.
      Inovasi di sekolah, terjadi pada sistem sekolah yang meliputi  komponen-komponen yang ada. Di antaranya adalah sistem pendidikan sekolah yang terdiri atas kurikulum, tata tertib, dalam manajemen organisasi pusat sumber belajar. Selain itu, yang lebih penting adalah inovasi dilakukan dalam sistem pembelajaran (yang berperan  di dalamnya adalah garu) karena secara langsung yang melakukan pembelajaran dikelas ialah guru. Keberhasilan pembelajaran sebagian besar tanggung jawab guru.
      Inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inversi (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
b.      Prinsip-prinsip Inovasi Pendidikan
      Peter M. Drucker dalam bukunnya Innovation and Enterpreneurship (Tilaar, 1999: 356), mengemukakan beberapa prinsip inovasi, yaitu sebagai berikut.
1)      Inovasi memerlukan analisis berbagai kesempatan dan kemungkinan yang terbuka. Artinya, inovasi hanya dapat terjadi apabila mempunyai kemampuan analisis.
2)      Inovasi bersifat konseptual dan perceptual, artinya yang bermula dari keinginan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang dapat diterima masyarakat.
3)      Inovasi harus dimulai dari hal yang kecil. Tidak semua inovasi dimulai dengan ide-ide besar yang tidak terjangkau oleh kehidupan nyata manusia. Kegiatan yang kecil untuk memperbaiki suatu kondisi atau kebutuhan hidup ternyata kelak mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap kehidupan manusia selanjutnhya.
4)      Inovasi diarahkan pada kepemimpinan atau kepeloporan, inovasi selalu diarahkan bahwa hasilnya akan menjadi pelopor dari suatu perubahan yang diperluakan. Apabila tidak demikian maka intense suatu inovasi kurang jelas dan tidak memperoleh apresiasi dalam masyarakat.


c.       Tujuan Inovasi Pendidikan
      “Tujuan” yang direncanakan mengharuskan adanya perincian yang jelas tentang sasaran dan hasil yang ingin dicapai, yang dapat diukur untuk mengetahui perbedaan antara keadaan sesudah dengan sebelum inovasi. Tujuan inovasi adalah efisiensi, relevansi, dan efektivitas mengenai sasaran jumlah anak didik sebanyak-banyaknya, dengan hasil pendidikan yang sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan anak didik, masyarakat, dan pembangunan) dengan menggunakan sumber tenaga, uang, alat,dan waktu dalam jumlah sekecil-kecilnya (Suryosobroto, 1990, 129).
      Tujuan utama dari inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan, yaitu kemampuan sumber tenaga, uang, sarana, dan prasarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Jadi, keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya (Hasbullah, 2001: 189).
      Tujuan lain dilakukannya inovasi pendidikan adalah untuk memecahkan masalah pendidikan dan menyonsong arah perkembangan dunia kependidikan yang lebih memberikan harapan kemajuan yang lebih pesat.
d.      Arah Inovasi Pendidikan
1)      Invetion (penemuan). Invention meliputi penemuan/penciptaan tentang suatu hal yang baru. Invention merupakan adaptasi dari hal-hal yang telah ada. Akan tetapi, membaharuan yang terjadi dalam pendidikan  terkadang menggambarkan suatu hasil yang sangat berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.
2)      Development  (pengembangan). Pembahruan harus mengalami pengembangan sebelum memasuki dalam dimensi skala yang besar. Development sering bergandengan dengan riset sehingga prosedur-prosedur ”research and development” (R&D) digunakan dalam pendidikan.
3)      Diffusion (penyebaran). Persebaran ide baru dari sumber kepada pemakai/penyerap yang terakhir.
4)      Adaption (penyerapan). Beberapa tahap yang penting dalam penerapan inovasi pendidikan.
e.       Sasaran Inovasi Pendidikan
      Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus melibatkan semua unsure yang terkait di dalamnya, seperti innovator, penyelenggaraan inovasi seperti guru dan peserta didik. Di damping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh satu atau dua factor, tetapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas. Factor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan.


1)      Guru
      Agar dunia pendidikan dapat lebih inovatif diperlukan guru yang berkompeten dan memiliki kreativitas yang tinggi. Guru harus mempunyai cara menyampaikan pembelajaran agar belajar itu menarik dan mudah dimengerti.
      Peran guru pada inovasi di sekolah tidak terlepas dari tatanan pebelajaran yang dilakukan dikelas. Guru harus tetap memperhatikan sejumlah kepentingan peserta didik, di samping harus memperhatikan suatu tindakan inovasinya.
2)      Siswa
      Prioritas paling tinggi di sekolah adalah berpusat pada minat dan kebutuhan siswa. Jadi, semua unit pekerjaan di sekolah diabadikan pada kepentingan siswa sesuai dengan tujuan dari pendidikan di sekolah tersebut.
3)      Kurikulum
      Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya, merupakan pedoman dalam pelaksanaan pen didikan dan pengajaran di sekolah. Kurikulum di sekolah bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam proses belajar mengajar disekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranaan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan.
4)      Fasilitas
      Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam inovasi pendidikan, fasilitas ikut memengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa fasilitas, pelaksanaan inovasi pendidikan tidak akan berjalan dengan baik.
5)      Lingkup Sosial Masyarakat
      Dalam menerapkan inovasi pendidikan, lingkup sosial masyarakat tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut, tetapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negative, dalam pelaksanaan pembahruan pendidikan. Secara langsung atau tidak, masyarakat terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik, terutama masyarakat tempat peserta didik itu berasal. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan akan membantu innovator dan pelaksan inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan. 




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Waktu dan Tempat
      Waktu penelitian pagi sampai selesai, hari senin tanggal 23 November 2015 Tempat penelitian ialah di Sekolah Dasar Negeri-3 Langkai di jalan Tamanggung Tandang Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah.
B.     Metode Penelitian
      Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena penelitian kulitatif menekankan analisis proses dari proses berpikir secara induktif yang berkaitan dengan dinamika hubungan antarfenomena yang dinamit, dan senantiasa menggunakan logika ilmiah. Penelitian kualitiatif tidak berarti tanpa menggunakan dukungan dari kuantitatif, tetapi lebih ditekankan pada kedalaman berpikir formal dari penelitian dalam menjawab permasalahan yang dihadapi. Penelitian kualitatif bertujuan mengembangkan konsep sensitivitas pada masalah yang dihadapi,menerangkan realitas yang berkatian dengan penelusuran teori dari bawah (grounded theory) dan mengembangkan pemahaman  akan satu atau lebih dari fenomena yang dihadapi. Penelitian kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang digunakan dalam mengungkapkan permasalahan dalam kehidupan kerja organisasi pemerintah, swasta, kemasyarakatan, kepemudaan, perempuan, olah raga, seni dan dan budaya, sehingga dapat dijadikan suatu kebijakan untuk dilaksanakan demi kesejahteraan bersama.
      Penelitian kualitatif menurut Flick (2002) dalam buku Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik Imam Gunawan, ialah specific relevance to the study of social ralations, owing to the fact of the pluralization of life worlds. Penelitian kualitatif adalah keterkaitan spesifik pada studi hubungan sosial yang berhubungan dengan fakta dari pluralisasi dunia kehidupan. Metode ini diterapkan untuk melihat dan memahami subjek dan objek penelitian yang meliputi orang, lembaga berdasarkan fakta yang tampil secara apa adanya. Melalui pendekatan ini akan terungkap gambaran mengenai aktualisasi, realitas social, dan presepsi sasaran penelitian. Penelitian kualitatif dimaksudkan untuk memahami perilaku manusia, dari kerangka acuan pelaku sendiri, yakni bagaimana perilaku memandang dan menafsirkan kegiatan dari segi pendiriannya. Penelitian dalam hal ini berusaha memahami dan mengambarkan apa yang dipahami dan digambarkan subjek penelitian.untuk maksud tersebut, penelitian menggunakan kualitatif. Disebut kualitatif, karena sifat data yang dikumpulkannya bercocok kualitatif bukan kuantitatf  yang menggunakan alat-alat pengukur.
C.    Prosedur Pengambilan Data
       Penelitian kualitatif berupaya mengungkapkan berupa kondisi perilaku masyarakat yang diteliti dan situasi lingkungan di sekitarnya, untuk mencapai hal tersebut, jenis data yang digunakan berveriasi, diantaranya pengalaman personal, intropektif, sejarah kehidupan, hasil wawancara, observasi lapangan, perjalanan sejarah, dan hasil pengamatan visual, yang menjelaskan momen-momen dan nilai-nilai rutinitas dan problemantika kehidupan setiap individu yang terlibat di dalam penelitian. Adapun yang peneliti gunakan dalam pengumpulan data sebagai berikut:
1.      Observasi (pengamatan)
      Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan penelitian secara teliti, serta pencatatan secara sistematis (Arikunto, 2002) dalam buku Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik Imam Gunawan. Menurut Kartono (1980: 142) dalam buku Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik Imam Gunawan, pengertian observasi ialah studi yang sengaja dan sistematis tentang fenomena social dan gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Selanjutnya, dikemukakan tujuan observasi adalah mengerti cirri-ciri dan luasnya signifikansi dari interelasinya elemen-eleman tingkah laku manusia pada fenomena social serba komplek dalam pola-pola kultur tertentu.
2.      Wawancara Mendalam (in-depth interviews)
      Wawancara mendalam adalah proses tanya jawab secara mendalam antara pewawancara dengan informan guana memperoleh informasih yang lebih terperinci sesuai dan tujuan penelitian. Dalam wawancara ini, pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan social yang relatif lama. Wawancara mendalam sangat cocok untuk mengumpulkan data pribadi, pandangan-pandangan dan pengalaman seseorang, terutama ketika topik-topik tertentu yang sedang disekplorasi.
3.      Studi Dokumentasi
      Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cendera mata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya, sifat utama data ini tak terbatas  pada ruang dan waktu sehingga member peluang pada peneliti untuk mengetaui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan documenter terbagi beberapa macam, yaitu autobiografi, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisc, data tersimpan di website, dan lain-lain.
      Gunawan Renier (1997: 104) dalam buku Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik Imam, menjelaskan istilah dokumen dalam tiga pengertian (1) dalam arti luas, yaitu yang meliputi semua sumber, baik sumber terlulis maupun sumber lisan; (2) dalam arti sempit, yaitu meliputi semua sumber tertulis saja; dan (3) dalam arti spesifik, yaitu hanya meliputi surat-surat resmi dan surat-surat Negara, seperti surat perjanjian, undang-undang, konsesi, hibah dan sebagainya



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Observasi
      Dalam kegiatan observasi Saya mendapatkan hasil-hasil pengamatan yang terbagi menjadi berbagai aspek  yaitu: 1) Sarana dan Prasarana, 2) dari selogan selogan dan stiker dikelas, 3) Hasil Wawancara, dan 4) Hasil Dokumentasi.
B.     Sarana dan Prasarana
      Hasil observasi yang saya liat sarana dan prasarana yang ada di Sekolah Dasar Negeri 3 Langkai yaitu; 1) Tempat parkir kenderaan guru, 2) Ruang Uks, 3) Timbangan berat badan ada 3, 3)Perpustakaan, 4) Kran cuci tangan, 5) WC/toilet ada 3 yaitu guru, peserta didik laki-laki dan peserta didik perempuan, 6) Tempat sampah, 7) Rak sepatu tidak disetiap depan kelas, 8) Tiang bendera, 9) Halaman upacara, senam dan bermain, 10) Taman, 11) Papan pengumuman ada 1, 12) Alat musik yaitu gitar, piano, 13) Mesin jahit, 14) Lonceng 15) Speaker, 16) Computer ada 3 di ruang tata usaha 17) Kipas angin diruang guru, 18) TV di ruang guru, 19) Kantin ada 1 selebihnya peserta didik belanja didepan sekolah, 20) Pagar sekeliling sekolah, 21) Ruang Kepala Sekolah, 22) Ruang guru, 23) Ada dapur diruang guru, 24) Jam dinding, 25) Ruang tata usaha, 26) Lemari disetiap kelas, 27) Data adminitrasi peserta didik disetiap kelas, 28) Sampoa besar di ruang kelas 1b, 29) Globe 30) Peta dunia dan 31) Papan tulis kecil tempat menempel hasil karya peserta didik.
C.    Dari selogan-selogan maupun stiker di luar kelas
1.         Selogan tidak buang sampah sembarangan
2.         Gerakan Pramuka Gusus Depan
3.         Pemberitahuan untuk para penjual
4.         Tata tertib sekolah
5.         Ikrar pendidikan karakter
6.         Tim Pocils
7.         Papan nama kelas dan wali kelas di setiap pintu kelas
      Dalam kegiatan observasi saya mendapatkan catatan berbagai macam sarana dan prasarana maupun selogan-selogan yang ada disekolah ini. Sarana dan prasaran serta selogan tersebut merupakan suatu hal inovasi juga yang dapat menunjang pendidikan. Contohnya saja sampoa yang besar yang terdapat di kelas 1b itu merupakan suatu inovasi dimana pembuatannya dapat menggunakan bahan yang bekas.
D.    Hasil Wawancara
      Dalam kegiatan wawancara saya selaku pelaksana kegiatan mewawancarai kepala sekolah.
1.      Kepala Sekolah
Teman saya bertanya kepada kepala sekolah “Apa saja pengembangan-pengembangan atau inovasi pendidikan yang telah ibu lakukan selama menjabat menjadi kepala sekolah baik dari segi sarana dan prasarana maupun pembelajaran ?”
Jawab :
Kepala Sekolah menjawab, “sekolah dasar negeri 3 langkai ini merupakan sekolah inklusif jadi semua anak berhak sekolah disini. Kalau soal pengembangan saya baru saja menjabat menjadi kepala sekolah. Namun dari segi fasilitas ada seperti adanya perpustakaan. Disekolah kami menggunakan kurikulum 2006 KTSP.”
      Dalam kegiatan wawancara saya tidak mewawancarai guru-guru mengajar maupun staf-staf. Dari hasil wawancara saya dengan kepala sekolah, kepala sekolah menyebutkan sekolah inklusif. Jadi, maksud dari sekolah inklusif tersebut adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan, dimana siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan khusus sesuai dengan potensinya masing-masing dan siswa regular mendapatkan layanan khusus untuk mengembangkan potensi mereka sehingga baik siswa yang berkebutuhan khusus ataupun siswa regular dapat bersama-sama mengembangkan potensi masing-masing dan mampu hidup eksis dan harmonis dalam masyarakat.
2.      Mahasiswa PPL
      Saya bertanya kepada mahasiswa yang sedang PPL di SDN 3 Langkai, pertanyaan saya seperti ini “Maaf mengganggu ka, boleh saya Tanya-tanya sebentar. Kaka disini sudah lama PPL tentu sudah tau seluk beluk yang ada disekolah ini, menurut kaka sendiri apa saja yang kaka tau tentang inovasi atau pembaharuan pendidikan baik dari segi fasilitas maupun cara pengajarannya yang ada di sekolah ini?
Jawab:
Mahasiswa PPL menjawab “ yang saya tau atau saya lihat inovasi atau pembaharuan yang berkaitan dengan pendidikan ini yaitu seperti ruang kelasnya dari kelas satu sampai enam memiliki dua ruanga, adanya nama walikelas di setiap depan pintu kelas, dalam ruangan terdapat media-media yang bisa digunakan dan setiap selesai belajar sebelum pulang mereka membersihkan ruang kelas. Itu saja yang saya tau.”
      Dalam hal ini saya tidak hanya mewawancara Kepala Sekolah tapi juga Mahasiswa yang lagi PPL di SDN 3 Langkai, hasil wawancara saya dengan mahasiswa PPL bahwa guru membiasakan peserta didik memberisihkan tempat sesudah menggunakannya, adanya media pembelajaran seperti globel, sangkoa yang besar di dalam kelas dan hasil karya peserta didik di pajang di depan kelas.
E.     Kelebihan, Kelemahan dan Solusi di SDN-3 Langkai
     Dalam kegiatan observasi saya menemukan kelebihan dan kelemahan yang ada di SDN-3 Langkai yaitu sebagai berikut:
1.      Kelebihan
      Kelebihan-kelebihan yang ada yaitu :
a.       SDN 3 Langkai merupakan sekolah inklusif
b.      Memiliki banyak tanaman di halaman depan kelas.
c.       Mempunyai pagar pembatas antara sekolah dan masyarakat.
d.      Memiliki kantin
e.       Ruangan guru letaknya strategis.
f.       Diruangan kelas terdapat gambar pahlawan dan karya-karya peserta didik.
g.      Perlengkapan kebersihan dikelas lengkap.
h.      Di UKS tersedianya obat-obatan dan juga tempat menyimpan alat music, olahraga buku-buku pembelajaran.
2.      Kelemahan
Kelemahan-kelemahan yang kami dapat yaitu :
a.       Belum mimiliki satpam
b.      Tempat cuci tangan tidak ada disetiap depan kelas
c.       Tempat untuk parkir peserta didik masih tidak rapi belum dibenahi.
d.      Di saat jam istirahat peserta didik ada yang keluar pagar untuk berbelanja.
e.       Pagar sekolah yang kurang memadai karena anak-anak masih bisa keluar walaupun dikunci.
3.      Solusi
      Solusi yang dapat saya berikan, hendaknya guru-guru sebagai pelaku inovasi itu sendiri selain melakukan inovasi tidak kalah penting juga adalah manajemen atau pengelolaan inovasi yang sudah ada dan hendaknya guru-guru juga saling bersinergi bersama-sama membuat inovasi yang bersifat membangun bersama memajukan dunia pendidikan.
F.     Dokumentasi (Terlampir)

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
      Dari observasi yang saya lakukan dan pembahasan saya bisa menyimpulkan bahwa inovasi tidak hanya dilakukan didalam media pembelajaran dan saran dan prasarana tapi juga inovasi juga bisa kita lakukan seperti membiasakan peserta didik untuk membersihkan tempat setelah mekainya, membuat slogan-slogan yang bisa memotivasi peserta didik, dan tenunya sasaran inovasi itu sendiri dilihat dari Guru, Siswa, Kurikulum, Fasilitas, dan lingkungan Sosial Masyarakat.
B.     Saran
      Kita sebagai guru nanti tentunya semoga bisa lebih peka lagi terhadapnya inovasi pendidikan karena, kita sebagai guru adalah jembatan ilmu yang selalu membimbing dan memberikan arahan pada peserta didik. Kita juga semaga mahasiswa tentunya mulai berinovasi dan menyiapkan diri agar kelak nanti ketika kita terjun dalam lapangan memberikan hasil yang baik.



Daftar Pustaka
            Rusdiana, 2014. Konsep Inovasi Pendidikan. Bandung:
CV. PUSTAKA SETIA
Zainal Arifin, 2014. Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Imam Gunawan, 2014. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik.

Jakarta: Bumi Aksara